KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Teori Belajar Sibernetik” tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari bapak Rodi Edi, S.Pd., M.Si dalam
mata kuliah Belajar Dan Pembelajaran.
Makalah ini telah kami susun dengan baik dan proses
penyusunannya kami mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga penyusunan
makalah ini berjalan dengan lancar. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang terlah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya
bahwa masih ada kekurangan baik dari susunan kalimat maupun tata bahasanya.
Oleh karena itu dengan senang hati kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah perkembangan
peserta didik tentang penyesuaian diri remaja ini dapat memberikan manfaat
serta memberi informasi terhadap pembaca.
Indralaya,
Januari 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar ................................................................................................ i
Daftar Isi............................................................................................................... ii
Pendahuluan
1. Latar Belakang ....................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah .................................................................................. 2
3. Tujuan .................................................................................................... 2
Tinjauan
Pustaka
1. Belajar dalam Pandangan Teori Sibernetik................................................ 3
2. Teori Pemrosesan Informasi......................................................................
6
1.
Sensory Memory............................................................................
7
2.
Work Memory................................................................................
7
3.
Long Term Memory.......................................................................
7
3. Kondisi
Internal dan Eksternal Siswa.......................................................
7
1.
Kondisi Internal.............................................................................
8
2.
Kondisi Eksternal...........................................................................
10
4. Teori
Belajar Menurut Landa....................................................................
11
1. Proses Berfikir Algoritmik..............................................................
11
2. Proses Berfikir Heuristik................................................................
11
5. Teori
Belajar Menurut Pask and Scott.......................................................
11
1. Serialis................................................................................................. 12
2. Wholist...........................................................................................
12
Pembahasan
1. Teori Belajar Sibernetik.............................................................................
14
a. Pengertian Teori Belajar Sibernetik....................................................... 14
b. Pemrosesan Informasi dalam Teori
Belajar Sibernetik..................... 15
2. Proses Berfikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori
Belajar Sibernetik 17
3. Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan
Pembelajaran.............. 17
4. Efektivitas Pembelajaran...........................................................................
18
a.
Pengertian Tentang Pembelajaran yang
Efektif................................ 18
b.
Ciri-Ciri Pembelajaran yang Efektif................................................. 19
c.
Faktor-faktor yang Menghambat
Efektivitas Pembelajaran dan Cara Mengatasinya 20
Kesimpulan .................................................................................................... 22
Daftar
Pustaka
Soal
Pilihan Ganda
Soal
Essai
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Proses pembelajaran merupakan suatu sistem,
dengan demikian pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk
dan mempengaruhi proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan jenjang dari
pendidikan, kualitas pendidikan bersifat kompleks dan dinamis, dapat dipandang
dari berbagai persepsi dan sudut pandang melintas garis waktu. Apabila dilihat
dari tujuan akhir pendidikan Nasional secara umum adalah peningkatan sumber
daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
adanya pendidikan dan pembelajaran yang efisien dan efektif. Banyak faktor yang
berpengaruh dalam mencapai tujuan tersebut salah satu diantaranya adalah
teknologi yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa.
Untuk membelajarkan seseorang, diperlukan pijakan teori agar apa yang dilakukan
guru, dosen, pelatih, instruktur maupun siapa saja yang berkeinginan untuk
membelajarkan orang dapat berhasil dengan baik. Teori adalah sekumpulan dalil
yang berkaitan secara sistematis yang menetapkan kaitan sebab akibat diantara
variabel yang saling bergantungan. Belajar adalah perubahan tingkahlaku yang
relatif ketat terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Perubahan yang
dimaksud harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama. Oleh
karena itu sangat dibutuhkan teori-teori belajar. Kebutuhan akan teori adalah
hal yang penting. Untuk itu pemahaman tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip
yang bersifat teoritis dan telah diuji melalui eksperimen sangat dibutuhkan.
Kebutuhan akan hal tersebut melahirkan teori belajar. Teori belajar berhubungan
psikologi terutama berhubungan dengan situasi belajar. Teori belajar bersifat
deskriptif dalam membicarakan dalam proses belajar.
Ada dua pijakan teori yang dapat dijadikan
pegangan agar pembelajaran berhasil dengan baik. Kedua teori tersebut adalah
teori belajar yang bersifat deskriptif. Teori ini memberikan bagaimana
seseorang melakukan kegiatan belajar. Teori belajar yang diterapkan oleh para
ahli pembelajaran itu meliputi teori behavioristik, teori kognitivistik, teori
humanistik, dan teori belajar sibernetik. Semua teori belajar tersebut memiliki
aplikasi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Pada bagian
ini dikaji tentang pandangan teori sibernetik terhadap proses belajar dan
aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran.
2.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian Teori Sibernetik?
2.
Apakah Pengertian teori belajar
menurut aliran sibernetik?
3.
Bagaimana Pemrosesan Informasi dalam
teori belajar sibernetik?
4.
Bagaimana Proses berpikir secara
Algoritmik dan Heuristik dalam teori belajar sibernetik?
5.
Apa Pengertian Efektivitas pembelajaran?
6. Bagaimana
ciri-ciri pembelajaran yang efektif?
3.
Tujuan
1.
Mengetahui pengertian Teori Sibernetik
2.
Mengetahui pengertian belajar menurut
teori sibernetik.
3.
Mengetahui bagaimana proses informasi
yang diperoleh dalam teori belajar sibernetik.
4.
Mengetahui proses berpikir secara
Algoritmik dan Heuristik dalam teori belajar sibernetik.
5.
Mengetahui pengertian dari efektivitas
pembelajaran.
6. Mengetahui
ciri-ciri pembelajaran yang efektif.
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Belajar dalam Pandangan Teori
Sibernetik
Istilah sibernetika/sibernetik atau dalam bahasa
Inggris disebut cybernetics berasal
dari bahasa Yunani Kuno, kybernetes yang
berarti pilot, jurumudi, kemudi atau gubernur, akar kata yang sama dengan
pemerintah. Istilah ini pertama kali digunakan dalam bahasa Inggis tahun 1945
oleh Nobert Wiener, seorang ilmuwan dari Massachussets Institute of Technology
(MIT), dalam buku berjudul Cybernetics untuk menggambarkan kecerdasan buatan
(artificial intelligence). Nobert Wiener mendefinisikan cybernetics sebagai,
“control and communication in animal and machine”.
Sejumlah definisi telah diberikan oleh para ahli.
Stafford Beer mendefinisikan sibernetik sebagai “science of effective
organitization.” Gregory Bateson mengatakan bahwa sibernetik lebih merupakan
bentuk daripada substansi. Gordon Pask mendefinisikan sibernetik sebagai “the
art of manipulating defensible metaphoros”. Para ahli organisasi menganggap
bahwa teori sibernetik sebagai sebuah ilmu tentang pemrosesan informasi,
pengambilan keputusan, pembelaaran, adaptasi, dan organisasi yang terjadi pada
individu, kelomopok, organisasi, negara, atau mesin.
Istilah sibernetik digunakan untuk menggambarkan
cara bagaimana umpan balik (feedback)
memungkinkan untuk berlangsungnya proses komunikasi.
Menurut Capra, sistem cybernetic terwujud dalam berbagai
bidang, yaitu:
1.
Bidang ekonomi yang dikenal dengan
konsep invisible hands,
2.
Dalam bidang kekuasaan, yang terwujud
dalam konsep check and balances di konstitusi,
3.
Bidang berfikir, yang terwujud dalam
cara berfikir Hegel, yaitu tesis-antitesis dan seintesis.
Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang
didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan
antar sistem, pengontol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan
lingkungan. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya “perbedaan”,
bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu
akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai: INPUT
– PROSES – OUTPUT.
Teori sibernetik merupakan teori belajar yang
relatif baru dibandingkan dengan teori-teori belajar yang telah dibahas
sebelumnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu
informasi. Menurut teori belajar sibernetik belajar adalah mengolah informasi
(pesan pembelajaran), proses belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Sekilas, teori sibernetik mempunyai persamaan dengan teori kognitif yang
mementingkan proses belajar dibandingkan hasil belajar. Proses belajar memang
penting dalam teori sibernetik, namun lebih penting lagi adalah sistem
informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Informasi inilah yang akan
menentukan proses.
Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan
informasi. Proses belajar memang memegang peranan penting, namun yang lebih
penting lagi adalah pengolahan sistem informasi. Dengan kata lain, sistem
informasi dipandang sangat memegang peranan penting dalam memudahkan
penyampaian materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Asumsi lain
dari teori sibernatik adalah bahwa tidak ada satu proses belajar manapun yang
ideal untuk segala sesuatu dan cocok untuk semua siswa, karena cara belajar
sangat ditentukan oleh sistem informasi. Menurut teori belajar sibernetik,
pebelajar menggunakan jenis-jenis memori yang berbeda selama belajar karena
situasinya berbeda-beda.
Aliran sibernetik tampaknya melahirkan teori belajar
berdasarkan analisis tugas karena pengolahan informasi diperlukan dalam
analisis tugas. Tanpa informasi yang jelas tugas tidaka akan terselesaikan
dengan baik. Sehubungan dengan proses tesebut umpan balik dan tindakan korektif
merupakan salah satu prinsip pokok dalam teori sibernetik. Menurut Scheerens,
ada 4 prinsip kunci sibernetik, yaitu:
1.
Sistem
harus mempunyai kapasitas untuk merasakan, memonitor dan meneliti aspek
signifikan dari lingkungan mereka;
2.
Mereka
harus mampu menghubungkan informasi dengan norma yang berlaku yang memandu
prilaku sistem;
3.
Sistem
harus mampu mendeteksi penyimpangan yang signifikan dari norma-norma;
4.
Mereka
harus mampu memulai tindakan korektif ketika ketidaksesuaian terdeteksi”.
Orientasi ini lebih mendekati gagaan tentang responsivitas terhadap batasan
lingkungan dibanding terhadap efektivitas dalam pengertian produktivitas dan
pencapaian tujuan.
Teori
sibernetik merupakan cabang dari psikologi sibernetik (psikosibernetik), yaitu
suatu studi perbandingan antara mekanisme kontrol manusia (biologis) dengan
sistem elektro mekanik, seperti komputer. Menurut Nurhadi, psikosibernetik
merupakan psikologi personaliti kreatif (creative personality) yang memfokuskan
kajiannya pada self-image yang terdapat pada pikiran bawah sadar. Psikosibernetik
berprinsip bahwa pikiran bawah sadar merupakan mekanisme dalam mencapai tujuan
yang disebut “servo-mechanism”, yang terdiri atas otak, dan sistem saraf yang
digunakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan. Hal itu berarti bahwa manusia
memiliki pikiran yang beroprasi secara otomatis seperti mesin yang bekerja
kerasdalam mencapai tujuan (goal striving machine). Sepemahaman dengan maltz,
Whittingham memandang bahwa mekanisme
psikosibernetik sebagai versi termostat pada otak. Tugas termostat adalah untuk
menjaga daerah sekitarnya atau badan pada temperatur konstan.
Berdasarkan
teori sibernetik, ahli psikologi menganalogikan mekanisme kerja manusia seperti
mekanisme mesin elektronik. Mereka
menganggap siswa (pebelajar) sebagai suatu sistem yang yang dapat mengendalikan
umpan balik sendiri (self-regulated feedback). Sistem kendali umpan balik ini,
baik pada manusia atau mesin (seperti komputer) mempunyai tiga fungsi, yakni:
(1) menghasilkan gerakan/tindakan sistem terhadap target yang diinginkan (untuk
mencapai tujuan tertentu yang diinginkan), (2) membandingkan dampak dari
tindakannya tersebut apakah sesuai atau tidak dengan jalur/rencana yang
seharusnya (mendeteksi kesalahan), dan (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk
mengarahkan kembali ke arah/ jalur seharusnya.
Lebih
lanjut menurut Uno, para ahli sibernetik menginterpretasikan manusia sebagai
suatu sistem kontrol yang dapat mrngarahkan tindakannya dan memperbaiki
tindakan dengan berdasar pada umpan balik. Dengan demikian, belajar dalam
konteks sibernetik merupakan proses mengalami konsekuensi lingkungan secara
sensorik dan melibatkan prilaku koreksi diri (self-corrective behavior) oleh
karena itu, pembelajaran harus didesain sedemikian sehingga tercipta suatu lingkungan
yang dapat menghasilkan umpan balik yang optimal bagi siswa.
Menurut
Nurwahid, kelebihan strategi
pembelajaran yang berpijak pada teori sibernetik, yaitu:
1.
Cara
berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
2.
Penyajian
pengetahuan memenuhi aspek ekonomis,
3.
Kapabilitas
belajar sapat disajikan lebih lengkap,
4.
Adanya
keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai,
5.
Adanya
transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya, kontrol belajar
memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu,
6.
Balikan
informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang
diharapkan.
Kelemahan
teori sibernetik adalah terlalu menekankan pada sistem informasi yang
dipelajari, dan kurang memperhatikan bagaimana proses belajar. Teori sibernetik
dikritik sebab tidak membahas proses belajar langsung sehingga hal ini
menyulitkan penerapannya.
2.
Teori
Pemrosesan Informasi
Menurut Suminar, model proses pengolahan informasi
memandang memori manusia seperti computer yang mengambil dan mendapatkan
informasi, mengolah dan mengubahnya dalam bentuk dan isi kemudian menyimpan dan
menampilkan informasi pada saat dibutuhkan.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada
asumsi (1) Bahwa antar stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan
pemrosesan informasi dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu (2) stimulus akan
mengalami perubahan bentuk ataupun isi dan (3) salah satu dari tahapan
mempunyai kapasitas yang terbatas. Ketiga asumsi tersebut menjadi dasar
pengembangan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan
informasi.
Komponen pemrosesan informasi berdasarkan perbedaan
fungsi, bentuk, kapasitas, bentuk informasi dan proses terjadinya lupa
dijelaskan melalui 3 komponen berikut.
1)
Sensory
Memory/ Sensory Register/Sensory Receptor (SM/SR)
Merupakan komponen utama dalam
sistem informasi. Sensory informasi menerima informasi atau stimuli dari
lingkungan (Sinar, udara, bau, panas, warna, dan lain-lain ) terus menerus
melalui alat-alat penerima (reseptor) atau alat indera.
2)
Working
memory (WM) dan Short Term Memory (STM)
Merupakan
bagian dari memori manusia, komponen kedua yang menangkap yang diberi perhatian
oleh individu dan menyimpanan informasi menjadi pikiran-pikiran. Informasi yang masuk dari Short Term Memory
(STM) berasal dari Sensory Memory (SM)
dan dapat pula dari Long Term Memory.
3)
Long
Term Memory (LTM)
Merupakan bagian dari sistem memory
manusia yang menyimpan informasi untuk sebuah periode yang cukup lama. Long Term
Memory (LTM) diperkirakan memiliki kapasitas yang sangat besar dan sangat lama
untuk menyimpan informasi, namun hanya sedikit saja yang diaktifkan,
dikarenakan hanya informasi yang ada dan sedang dipikirkan dan dikerjakan oleh
ingatan atau memory. Long Term Memory (LTM) diasumsikan berisi (a) Semua
pengetahuan yang dimiki individu. (b) Mempunyai kapasitas tidak terbatas (c)
sekali informasi disimpan pengetahuan tersebut tidak akan hilang atau terhapus.
Persoalan Lupa pada tahapan ini dikarenakan oleh kesulitan atau kegagalan
memunculkan informasi yang diperlukan.
3. Kondisi
Internal dan Eksternal Siswa
Belajar bukan sesuatu yang bersifat alamiah, namun
terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu, yaitu kondisi internal dan kondisi
eksternal. Sehubungan hal tersebut, Menurut Suminar, pengelolaan pembelajaran
dalam teori belajar sibernetik, menuntut pembelajaran untuk diorganisir dengan
baik yang memperhatikan kondisi internal dan eksternal. Mengacu pada pendapat
Suminar, uraian masing-masing kondisi internal dan eksternal siswa adalah
sebagai berikut.
1. Kondisi
Internal
Kondisi internal siswa mempengaruhi proses belajar
melalui proses pengolahan informasi, dan sangat penting untuk diperhatikan oleh
guru dalam mengelola pembelajaran antara lain:
a.
Kemampuan awal siswa
Kemampuan awal siswa adalah pengetahuan atau
keterampilan yang telah dimiliki siswa, merupakan prasyarat sebelum mengikuti
pembelajaran. Tanpa adanya kemampuan awal (prasyarat) maka siswa tidak akan
mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Kemampuan awal siswa dapat
diukur melalui tes awal, interview atau cara lain yang cukup sederhana.
b.
Motivasi
Motivasi berperan sebagai tenaga pendorong yang
menyebabkan adanya tingkah laku kearah tujuan tertentu. Motivasi instrinsik
lebih menguntungkan karena dapat bertahan lama. Kebutuhan untuk berprestasi
yang bersifat instrinsik relative stabil, karena ini berorientasi pada
tugas-tugas belajar yang memberikan tantangan.
c.
Perhatian
Perhatian merupakan strategi untuk menerima dan
memilih stimulus yang relevan untuk diprooses lebih lanjut diantara sekian
banyak stimulus yang dating dari luar. Perhatian dapat mengarahkan diri ke
tugas yang diberikan,melihat masalah-masalah yang akan diberikan,memilih dan
memberikan focus pada masalah yang akan diselesaikan, dan mengabaikan hal-hal
lain yang tidak relevan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian seseorang
adalah faktor internal yang mencakup: minat, kelelahan dan karakteristik
pribadi, sedangkan faktor eksternal mencakup: intensitas stimulus, stimulus
yang baru, keragaman stimulus, warna, gerak, dan penyajian stimulus secara
berkala dan berulang-ulang.
d.
Persepsi
Persepsi adalah tindakan menyusun, mengenali dan
menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang
lingkungan. Persepsi merupakan proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan
orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari
lingkungannya. Persepsi sebagai tingkat awal struktur kognitif seseorang.
Persepsi seseorang menjadi lebih mantap dengan meningkatnya pengalaman.
e.
Ingatan
Ingatan adalah suatu system aktif yang menerima,
menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi. Ingatan sangat selektif, teriri
dari tiga tahap, yaitu ingatan sensorik, ingatan jangka pendek, dan ingatan
jangka panjang (relative permanen). Penyimpanan informasi jangka panjang
dilakukan dalam berbagai bentuk, yaitu melalui kejadian-kejadian khusus,
gambaran (image), atau yang berbentuk verbal bersifat abstrak. Daya ingat
sangat menentukan hasil belajar yang diperoleh siswa.
f.
Lupa
Lupa merupakan hilangnya informasi yang telah
disimpan didalam ingatan jangka panjang. Seseorang dapat melupakan informasi
yang telah diperoleh karena beberapa hal, yaitu 1) tidak ada informasi yang
menarik perhatian, 2) kurang pengulangan atau tidak ada pengelompokan informasi
yang diperoleh, 3) mengalami kesulitan dalam mencari kembali informasi
tersimpan, 4) ingatan telah aus dimakan waktu atau rusak,5) ingatan tidak
pernah dipakai, 6) materi tidak dipelajari sampai benar-benar dikuasai, dan 7)
adanya gangguan dalam bentuk informasi lain yang menghambatnya untuk mengingat
kembali.
g.
Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat
kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu, jadi kebalikan lupa. Ada tiga
faktor yang mempengaruhi retensi, yaitu: materi yang dipelajari pada permulaan
(original learning), melajar melebihi penguasaan (overlearning),
dan pengulangan dengan interval waktu (spaced review).
h.
Transfer
Transfer merupakan suatu proses yang telah pernah
dipelajari, dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari materi yang baru.
Transfer belajar atau transfer latihan berarti aplikasi atau pemindahan
pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, sikap atau respons-respons lain dari satu
situasi ke situas ilain.
2.
Kondisi Eksternal
Kondisi eksternal yang sangat berpengaruh
terhadapproses belajar dengan proses pengolahan informasi antara lain :
a.
Kondisi Belajar
Kondisi belajar,merupakan masukan yang dapat
menyebabkan adanya modifikasi tingkah laku yang dapat dilihat sebagai akibat dari
adanya proses belajar. Gagne mengklasifikasikan ada 5 macam hasil belajar,
yakni: 1) Keterampilan intelektual atau pengetahuan procedural yang mencakup
belajar diskriminasi, konsep, prinsip dan pemecahan masalah yang diperoleh
melalui materi yang disajikan dalam pembelajaran dikelas. 2) Strategi kognitif,
kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses
internal masing-masing individu dalam memperhatikan belajar, mengingat dan
berfikir. 3) Informasi verbal, kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan
kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan. 4)
Keterampilan motorik, kemampuan untuk melaksanakan dan mengkordinasi
gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot. 5) Sikap, suatu kemampuan
internal yang mempengaruhi perilaku seseorang, dan didasari oleh emosi,
kepercayaan serta faktor intelektual.
b.
Tujuan
Belajar
Tujuan belajar merupakan komponen system
pembelajaran yang sangat penting, sebab komponen-komponen lain dalam
pembelajaran harus bertolak dari tujuan belajar yang hendak dicapai dalam
proses belajarnya. Tujuan belajar yang dinyatakan secara spesifik dapat
mengarahkan proses belajar, dapat mengukur tingkat ketercapaian tujuan belajar,
dan dapat meningkatkan motivasi belajar.
c.
Pemberian Umpan Balik
Pemberian umpan balik, merupakan suatu hal yang
sangat penting bagi siswa, karena memberikan informasi tentang keberhasilan,
kegagalan dan tingkat kompetensi.
4.
Teori
Belajar Menurut Landa
Salah satu penganut aliran sibernatik adalah Lev N.
Landa. Ia membedakan ada dua macam proses berfikir, yaitu prose berpikir
algoritmik dan proses berpikir heuristik. Uraian dari masing-masing proses
berfikir tersebut.
a)
Proses Berfikir Algoritmik
Merupakan
Proses berfikir sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus menuju
satu target tujuan tertentu. Landa menyebutkan bahwa proses algoritmik proses
yang terdiri dari serangakaian operasi yang elementer yang terbentuk secara
seragam dan regular dibawah kondisi yang didefinisikan untuk memecakan berbagai
masalah.
b)
Prose Berfikir Heuristik
Merupakan
cara berfikir devergen, menuju beberapa target atau tujuan sekaligus. Memahami suatua konsep yang mengandung arti
ganda dan penafsiran biasanya menuntut seorang untuk menggunakan cara berfikir
heuristik.
5.
Teori Belajar Menurut Pask dan
Scott
Gordon Pask sebenarnya adalah seorang yang kehidupan
karirnya berkisar di dunia seni. Kontribusi utamanya adakah mengenai “aesthetically-potent
environments” yang diartikan sebagai “karya seni yang erupakan sebuah
system yang berevolusi secara independen atau dengan melibatkan interaksi”.
Pask mengatakan lingkungan estetis potensial adalah suatu lingkungan yang
dirancang menyenangkan. Hal ini berarti bahwa untuk menggali potensi ataupun
dalam aktivitas belajar, lingkungan sekitar harus sedemikian rupa agar menjadi
lingkungan yang menyenangkan, sehingga memudahkan seseorang untuk belajar.
Gordon Pask mendalami sibernetik bersama koleganya
Bernard Scott. Teori belajar Pask dan Scott termasuk dalam rumpun teori
pemrosesan informasi, dimana proses belajar sangat ditentukan dengan sistem
informasi yang dipelajari. Menurut teori pemrosesan informasi, suatu informasi
akan mengalami tahapan diterima, disandi, disimpan, dan dimunculkan kembali
dari ingatan. Informasi diterima disensori reseptor, kemudian disandi di working
memory, dan disimpan di long term memory. Informasi yang tersimpan
di LTM tidak akan terhapus atau hilang.
Teori belajar menurut teori Pask dan Scott yaitu
agar siswa mampu mengkaji materi yang telah dipelajari dan yang telah didapati
dari gurunya, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari hari. Menurut
Pask dan Scott, ada 2 macam cara berpikir, yaitu cara berpikir serialis dan
cara berpikir menyeluruh.
1.
Serialis
Pendekatan serialis yang dikemukakan Pask dan Scott
memiliki kesamaan dengan pendekatan algoritmik. Siswa tipe serialis cenderung
berpikir secara algoritmik terutama dalam mempelajari bidang eksakta seperti
matematika. Seorang yang memiliki gaya serialis memilih belajar dengan
berproses dalam langkah langkah kecil yang logis, berusaha untuk mendapatkan
kejelasan pada setiap bagian sebelum melangkah lanjut, mengejar jalur linear
dalam tugas pembelajaran serta menghindari penyimpangan. Siswa yang menggunakan
strategi penggunaan langkah langkah yang telah ditetapkan secara hirarkis
merupakan pembelajaran yang memiliki gaya pengajaran serialis.
2.
Wholist
Cara berpikir menyeluruh wholist adalah berpikir
yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem
informasi. Siswa tipe wholist atau menyeluruh cenderung mempelajari sesuatu
dari tahap yang paling umum kemudian bergerak ke yang lebih khusus atau lebih
detail. Seorag wholist memilih untuk belajar dalam car acara yang berbeda, dan
mendekati ide idedari sudut pandang yang berbeda pula. Pembelajar yang
menggunakan strategi pengajran yang fleksibel dan kontekstual, tidak terikat
oleh langkah langkah hirarkis pentahapan pembelajaran merupakan pembealajar
yang memiliki gaya pengajaran holostik.
Pendekatan yang berorientasi pada pengelolahan
informasi menekankan beberapa hal seperti ingatan jangka pendek, ingatan jangka
panjang, dan sebagainya yang berhubungan dengan apa yang terjadi pada otak kita
dalam proses pengelolahan informasi. Namun, menurut teori sibernetik ini, agar
proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang
perlu dipahami, tapi juga lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itupun perlu
diketahui. Dari model ini dikembangkan prinsip belajar seperti proses mental
dalam belajar terfokus pada pengetahuan bermakna, proses mental mampu menyandi
informasi secara bermakna, dan bermuara pada pengorganissian dan
pengaktualisasian informasi.
Teori Pask dan Scott selain dikembangkan dari teori
sibernetik juga dikembangkan dari conversation theory. Teori ini menganggap
sosial system as symbolic, dimana orientasinya pada system Bahasa yang
tanggapannya bergantung pada penafsiran seseorang atau salah satu perilaku
orang lain, dan makna tersebut disepakati melalui percakapan. Teori tersebut
juga menjelaskan interaksi antara dua atau leboh system kognitiv, seperti guru
dan siswa atau perspektif berbeda dalam satu individu.
Conversation memiliki beberapa kategori sebagai
berikut:
a.
Monolog, conversation yang lebih kepada
proses internal pada diri individu
b.
Dialoge, digunakan untuk mencari mufakat
c.
Dialektic, percakapan untuk mendapatkan
kebenaran dari argument logis yang berfokus pada pemikiran analitika dan
informasi factual
d.
Contruction, percakapan digunakan untuk
membuat sesuatu yang baru
Dampak pengiring kegiatan pembelajaran berlandaskan
teori Pask dan Scott sebagai berikut
a.
Sikap positif, guru yang menguasai teori
ini tidak semata mta menilai hasil akhir melainkan proses berpikir siswa
sehingga akan membuat siwa lebih diargai. Hal ini juga akan merubah pemikiran
mereka bahwa materi itu sulit menjadi materi itu mengasyikkan, serta membuat
siswa mau dengan tekun mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan
dengan sesegera mungkin
b.
Kemandirian, kemandirian siswa akan terbentuk
dari cara sisa mwnuangkan sendiri hasil membaca buku materi dan dengan dibantu
oleh guru saat mereka mengalami kesulitan. Jadi guru tidak secara terus
mendikte siswa dalam menyelesaikan masalah melainkan membimbing mereka sesuai
dengan kesulitan mereka.
c.
Kreativitas, pemberian kesempatan kepada
siswa untuk memahami materi dengan membaca dari buku teks dan mencoba sendiri
terlebih dahulu memecahkan masalah dengan pemahamannya menjadika siswa kreatif
dalam berpikir.
Implementasi teori belajar Pask dan Scott dalam
kegiatan pembelajaran ialah dengan memproses informasi yang menitikberatkan
pada system informasi belajar. Teori Pask dan Scott menghendaki siswa memproses
informasi secara sistematik, linear, konvergen, dan menuju satu tujuan. Siswa
dapat menyelesaikan permasalahan mulai dari pengertian awal, diteruskan sampai
mendekati hasil dan menarik kesimpulan. Menhendaki siswa untuk mampu berpikir
melompat kedepan dan langsng kegambaran lengkap adalah maksud lain teori Pask
dan Scott.
PEMBAHASAN
1.
TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Teori
belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan
dengan teori-teori belajar yang telah ada, seperti teori belajar behavioristik,
konstruktivistik, humanistik , maupun teori belajar kognitif. Seolah-olah teori
ini memiliki kesamaan dengan teori kognitif yaitu mementingkan proses belajar
dari pada hasil belajar. Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik,
namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses yang akan
dipelajari siswa. Bagaimana proses belajar akan berlangsung, sangat ditentukan
oleh sistem informasi yang dipelajari.
a.
Pengertian
Teori Belajar Sibernetik
Sibernetik
merupakan bentuk kata serapan dari kata ’Cybernetic’
yakni sistem kontrol dan komunikasi yang memungkinkan feedback atau umpan balik. Kata ’cybernetic’ yang selanjutnya kita tulis dengan kata sibernetik
berasal dari bahasa yunani yang berarti pengendali atau pilot. Bidang ini
menjadi disiplin ilmu komunikasi yang berkaitan dengan mengontrol mesin
komputer. Istilah ini dipakai pertama kali oleh Louis Couffignal tahun 1958.
Kini istilah sibernetik berkembang menjadi segala sesuatu yang berhubungan
dengan internet, kecerdasan buatan dan jaringan komputer. Istilah ’sibernetik’ pertama kali dipopulerkan
oleh Nobert Wiener, seorang ilmuwan dari Massachussets
Institutof Technology (MIT), untuk menggambarkan kecerdasan buatan (artificial intellidence). Istilah
sibernetik digunakan untuk menggambarkan cara bagaimanaumpan balik
(feedback) memungkinkan
berlangsungnya proses komunikasi.Sejalan dengan pengertian
tersebut, M.R.Abror mendefinisikan:
”Cybernetik merupakan suatu ilmu
pengetahuan yang mempersoalkan prinsip pengendalian dan komunikasi yang
diterapkan dalam fungsi organisme atau mesin yang majemuk, dalam hal ini sering
disinonimkan dengan umpan balik”.
Teori ini
berkembang dengan sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi.
Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Asumsi lain dari
teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk
segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat
ditentukan oleh sistem informasi (penyampaian materi). Sebuah informasi mungkin
akan dipelajari oleh seorang siswa dengan satu macam proses belajar, dan
informasi yang sama mungkin akan dipelajari siswa lain melalui proses belajar
yang berbeda.
b.
Pemrosesan Informasi dalam Teori
Belajar Sibernetik
Dalam teori belajar sibernetik
berorientasi pada pemrosesan informasi, yaitu yaitu bagaimana kecakapan siswa
dalam memproses informasi dan cara-cara mereka dapat memperbaiki kecakapan
untuk menguasai informasi. Selanjutnya digunakan acuan oleh seorang pengajar
dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dalam penyampaian informasi kepada siswa
lebih efektif.
Pemrosesan informasi mengacu kepada
cara-cara orang menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data,
melihat masalah, mengembangkan konsep dan memecahkan masalah dengan menggunakan
lambang/simbol-simbol baik verbal maupun non-verbal.
Pemrosesan informasi dalam
pembelajaran tidak terlepas dari komunikasi. Oleh sebab itu untuk memperoleh
gambaran yang lebih komprehensif, ada baiknya di sini dikemukakan definisi
komunikasi. Menurut Geralt R.Miller ”komunikasi terjadi dari suatu sumber
menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk
mempengaruhi prilaku penerima”. Sedangkan menurut Keith Davis: ”komunikasi
adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain”.
Melalui komunikasi guru sebagai sumber menyampaikan informasi, yang dalam
konteks belajar dan pembelajaran adalah materi pelajaran, kepada penerima yaitu
siswa dengan menggunakan simbol-simbol baik lisan, tulisan, dan bahasa
non-verbal. Sebaliknya siswa akan menyampaikan beberapa pesan sebagai respon
kepada guru (feedback) sehingga
terjadi komunikasi dua arah. Robert Gagne berpendapat bahwa dalam pembelajaran
terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan
keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran. Menurut teori Gagne, hasil pembelajaran
merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capabilities) yang terdiri atas:
a.
Informasi
verbal
Ialah
hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal
(kata-kata atau kalimat) baik secara tertulis atau secara lisan. Informasi
verbal bisa berupa pemberian nama atau label terhadap suatu benda atau fakta,
pemberian definisi atau pengertian, atau perumusan berbagai hal dalam bentuk
verbal.
b.
Kecakapan
intelektual
Ialah kecakapan individu dalam
melakukan interaksi dengan lingkungan dengan menggunakan simbol-simbol.
Kecakapan intelektual ini mencangkup kecakapan dalam membedakan (diskriminasi),
konsep konkrit, konsep. abstrak, aturan dan hukum-hukum. Kecakapan ini sangat
diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.
c.
Strategi
kognitif
Ialah kecakapan individu untuk
melakukan pengendalian dalam mengelola (management)
keseluruhan aktivitasnya. Dalam proses pembelajaran, strategi kognitif ini
mengarah pada kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berpikir agar
terjadi aktifitas yang efektif.
d.
Sikap
Ialah hasil pembelajaran yang berupa
kecakapan individu untuk memilih berbagai tindakan yang akan dilakukan. Dengan
kata lain, sikap dapat diartikan sebagai keadaan di dalam diri individu yang
akan memberi arah kecenderungan bertindak dalam menghadapi sutu objek atau
rangsangan.
e.
Kecapakan
motoric
Ialah hasil pembelajaran yang berupa
kecakapan gerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
2.
PROSES BERPIKIR ALGORITMIK DAN
HEURISTIK DALAM TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Salah satu
penganut aliran sibernetik adalah Landa. Ia membedakan ada dua macam proses
berpikir , yaitu proses berpikir algoritmik dan proses berpikir heuristic.
a.
Proses
berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap,
linear, konvergen, lurus menuju ke satu target tujuan tertentu.Contoh dalam
kehidupan sehari-hari seperti kegiatan menjalankan mesin mobil, dalam
menjalankan mesin mobil kegiatan yang dilakukan dijalankan secara berurutan.
b.
Proses
berpikir heuristik, yaitu cara berpikir divergen, menuju ke beberapa target
tujuan sekaligus. Memahami suatu konsep yang mengandung arti ganda dan
penafsiran biasanya menuntut seseorang untuk menggunakan cara berpikir
heuristik.Contoh proses berpikir
heuristik misalnya penemuan
cara memecahkan masalah, dalam
pembelajaran biasa dikenal dengan metode problem solving (pemecahan masalah
sosial dari sebuah materi pembelajaran).
3.
APLIKASI TEORI BELAJAR SIBERNETIK
DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Dalam
kaitannya pembelajaran di ruang kelas, Gagne mengemukakan ada sembilan langkah
pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru. Langkah-langkah tersebut adalah :
a.
Melakukan
tindakan untuk menarik perhatian siswa
b.
Memberikan
informasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran dan topik-topik yang akan
dibahas
c.
Merangsang
siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran
d.
Menyampaikan
isi pelajaran yang dibahas sesuai dengan topik yang telah ditetapkan.
e.
Memberikan
bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
f.
Memberikan
peneguhan kepada prilaku pembelajaran siswa.
g.
Memberikan
umpan balik terhadap prilaku yang ditunjukkan siswa
h.
Melaksanakan
penilaian proses dan hasil belajar
i.
Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil pembelajaran.
4.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN
a.
Pengertian Tentang Pembelajaran Yang
Efektif
Seperti
dijelaskan sebelumnya, dalam menilai aktivitas seorang dalam mengajar adalah
relatif sekali. Namun demikian ada baiknya disajikan beberapa pendapat dari
para ahli pendidikan,diantaranya sebagai berikut:
1)
Menurut
Slamento, mengajar yang efektif ialah mengajar yang dapat membawa belajar siswa
menjadi efektif pula. Belajar disini adalah suatu aktivitas mencari, menemukan
dan melihat pokok masalah.
2)
Menurut
Medley, ada empat karakteristik dari mengajar yang efektif, yaitu:
a)
Penampilan
mengajar (penguasaan bahan ajar), termasuk persiapan dalam mengajar
b)
Cara
mengajar (pemilihan model instruksi, alat bantu mengajar dan evaluasi yang
dipakai);
c)
Kompetensi
dalam mengajar;
d)
Pengambilan
keputusan yang bijaksana;
3)
Kalau
menurut Shachelford dan Henak, bahwa pengajar yang efektif didefinisikan
sebagai berikut:
“Effective teacher are knowledgable
about the theories of presentation, learning, and learner characteristics”.
Jika
diperhatikan pengertian tersebut adalah apa yang selama ini lebih dikenal dalam
proses belajar-mengajar, yaitu bahwa mengajar harus menguasai:
a)
Apa
yang diajarkan;
b)
Teori
pengajaran (pemilihan instructional
design) yang relevan;
c)
Hal-hal
baru (mau melakukan penelitian untuk memperkaya isi bahan ajar yang diberikan);
d)
Karakteristik
siswa
b.
Ciri-Ciri Pembelajaran Yang Efektif
Proses pembelajaran yang efektif
dapat dibentuk melalui pengajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)
Berpusat
pada siswa, Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, siswa merupakan subjek
uatama. Segala bentuk aktivitas hendaknya diarahkan untuk membantu perkembangan
siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam
perwujudan diri siswa sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif dan pekerja
produktif.
2)
Interaksi
edukatif antara guru dengan siswa, Dalam proses pembelajaran, hendaknya
terjalin hubungan yang bersifat edukatif atau mendidik dan mengembangkan.
Interaksi antara guru dengan siswa, hendaknya berdasarkan sentuhan-sentuhan
psikologis yaitu adanyasaling pemahaman antara guru dengan siswa, rasa percaya
diri dapat ditumbuhkan dalam suasana seperti itu.
3)
Suasana
demokratis, Dalam suasana demokratis semua pihak memperoleh penghargaan sesuai
dengan prestasi dan potensinya, sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, dan
pada gilirannya dapat berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan
masing-masing
4)
Variasi
metode; sebagaimana penjelasan sebelumnya, jika guru hanya menggunakan salah
satu metode maka pembelajaran akan membosankan, siswa tidak tertarik pada
materi yang diajarkan. Dengan metode yang bervariasi dapat meningkatkan
motivasi dan prestasi siswa dalam belajar.
5)
Seorang
guru mengajar harus memberikan pengetahuan yang actual dan dipersiapkan
sebaik-baiknya. Pengetahuan yang actual akan menarik minat siswa, sehingga
pelajaran guru akan menimbulkan rangsangan yang efektif bagi proses belajar
siswa.
6)
Guru
harus berani memberikan pujian (reward);
pujian yang diberikan dengan tepat dapatt mengakibatkan siswa mempunyai sikap
yang positif, daripada guru yang selalu mengkritik dan mencela. Pujian dapat
menjadi motivasi belajar yang positif bagi siswa.
7)
Menimbulkan
semangat belajar secara individual;
masing-masing siswa mempunyai perbedaan dalam pengalaman, kemampuan dan
sifat-sifat pribadi yang lain, sehingga dapat memberikan kebebasan dan kebiasaan
bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan penuh inisiatif dan
kreatif dalam pekerjaannya.
c.
Faktor-Faktor yang Menghambat Efektivitas
Penbelajaran dan Cara Mengatasinya
Secara
teoritis dapat dikatakan bahwa pembelajaran maupun pengajaran yang tidak
efektif adalah karena kriteria mengajar yang baik dan efisien seperti yang
dijelaskan di atas tidak dipenuhi. Namun dalam praktek, karena situasi dan
kondisi setempat, maka sumber ketidakefektifan mengajar ini juga sangat
kondisional. Dari beberapa literatur ditemukan beberapa penyebab mengapa
pembelajaran tidak efektif, diantaranya adalah menurut Schackelford dan Henack
sumber ketidak efektifan mengajar itu disebabkan berbagai faktor antara lain
sebagai berikut:
1)
Bahan
ajar diberikan dengan cara kaku (tidak fleksibel), sehingga terkesan bahwa
pengajaran tersebut terasa ‘kering’ dan ‘tidak menarik’
2)
Pengajar
memberikan bahan ajar dengan membaca saja, tanpa diselingi dengan penggunaan
dengan penggunaan alat Bantu pengajaran (aspek ‘mendengar’ lebih banyak
daripada ‘aspek melihat’).
3)
Tidak
ada variasi dalam cara mengajar, tidak ada penekanan terhadap mana materi yang
penting dan aspek mana yang kurang penting.
4)
Pembicaraan
sering menyimpang dari silabus yang ditetapkan.
5)
Penyampaian
bahan ajar yang sulit, tidak dapat dijelaskan secara baik, sehingga siswa sulit
memahaminya.
6)
Tugas-tugas
yang diberikan siswa sering berubah-ubah dari yang semula ditetapkan sehingga
menyulitkan siswa untuk mengatur waktu penyelesaian.
7)
Pengorganisasian
yang acak-acakan, sehingga pemberian bahan ajar menjadi kurang sistematis.
8)
Tidak
mau atau hanya sedikit menerima umpan balik dari siswa atau pun dari teman
sejawatnya.
9)
Penilaian
yang kurang adil atau tidak objektif.
10)
Kurang
menyenangi tugas atau profesinya sebagai pengajar.
11)
Sulit
untuk ditemui atau dicari siswa saat siswa dalam kesulitan memahami pelajaran
dan perlu bimbingan.
12)
Sombong
dan tinggi hati, sehingga tidak memerlukan komentar atau umpan balik dari orang
lain.
Walaupun
banyak factor yang menyebabkan pengajaran tidak efektif, namun untuk tujuan
yang pragmatis, maka Shackelforddan Henack menyarankan enam faktor yang perlu
mendapat prioritas untuk dikerjakan. Keenam faktor tersebut adalah:
a.
Jujurlah
pada anda sendiri. Sekiranya ada kekurangan anda dalam mengajar, maka terimalah
kritik atau saran oran lain untuk memperbaiaki kekurangan anda tersebut.
b.
Hindari
pemberian bahan ajar yang tidak terfokus pada satu permasalahan. Sebab bila
anda memberikan apa saja tanpa arahan yang jelas, maka anda akan kehilangan
topic mana yang penting dan mana yang kurang penting.
c.
Tuliskan
apa yang anda berikan, walaupun itu hanya satu atau beberapa lembar agar siswa
lebih mudah dalam mengikuti pembelajaran dan anda sendiri tidak kehilangan arah
dalam memberikan pengajaran.
d.
Ikuti
penataran atau seminar singkat tentang cara pengajaran yang baik yang dilakukan
instansi terkait. Sebab dengan belajar pada orang lain yang mempunyai skill tentang itu adalah sangat baik
untuk meningkatkan skill anda sendiri.
e.
Cari
umpan balik dari cara anda memberikan bahan ajar dilihat dari aspek apa saja,
apakah cara anda mengajara, pemilihan alat Bantu mengajar atau yang lainnya.
f.
Carilah
ide-ide baru untuk meningkatkan cara anda mengajar.
KESIMPULAN
1.
Teori Cybernetik merupakan suatu ilmu pengetahuan
yang mempersoalkan prinsip pengendalian dan komunikasi yang diterapkan dalam
fungsi organisme atau mesin yang majemuk, dalam hal ini sering disinonimkan
dengan umpan balik
2.
Menurut teori sibernetik, belajar adalah
pengolahan informasi. Sistem informasi dipandang sangat memegang peranan
penting dalam memudahkan penyampaian materi pembelajaran yang akan disajikan
kepada siswa.
3.
Menurut
teori Gagne, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi
yang berupa kecakapan manusia (human
capabilities) yang terdiri atas (a) Informasi verbal, (b) Kecakapan
intelektual, (c) Strategi, (d) kognitif, (e) Sikap, (f) Kecapakan motorik.
4.
Proses teori Algoritmik adalah berfikir
sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus menuju satu target
tujuan tertentu sedangkan Proses Teori Heuristik adalah cara berfikir devergen,
menuju beberapa target atau tujuan sekaligus.
5.
Menurut
Slamento, mengajar yang efektif ialah mengajar yang dapat membawa belajar siswa
menjadi efektif pula. Belajar disini adalah suatu aktivitas mencari, menemukan
dan melihat pokok masalah.
6.
Proses
pembelajaran yang efektif dapat dibentuk melalui pengajaran memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
a. Berpusat pada siswa
b. Interaksi edukatif antara guru
dengan siswa
c. Suasana demokratis
d. Variasi metode
e. Seorang guru mengajar harus
memberikan pengetahuan yang actual dan dipersiapkan sebaik-baiknya.
f. Guru harus berani memberikan pujian
(reward)
g. Menimbulkan semangat belajar secara
individual
DAFTAR
PUSTAKA
Aprizal.
2014. Makalah Teori Belajar Sibernetik
dan Penerapannya dalam Pembelajaran. https://www.scribd.com/doc/215419203/Makalah-Teori-Belajar-Sibernetik-dan-Penerapannya-dalam-Pembelajaran. (Diakses pada
tanggal 14 Januari 2019).
Arqam, Mhd
Lailan. 2010. Pengembangan Multimedia Pembelajaran pada Mata Pelajaran
Kemuhammadiyahan bagi Siswa Kelas I Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
http://digilib.uns.ac.id/upload/dokumen
/164693008201010201.pdf. (Diakses pada 14 Januari 2019).
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT RinekaCipta
Husamah, Pantiwati, Y., Restian, A., & Sumarsono, P. 2018. Belajar dan
Pembelajaran. Malang: UMM Press.
Suherman,
Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.
SOAL PILIHAN GANDA
1. Suatu
ilmu pengetahuan yang mempersoalkan prinsip pengendalian dan komunikasi yang diterapkan
dalam fungsi organisme atau mesin yang majemuk, dalam hal ini sering
disinonimkan dengan umpan balik, yaitu.....
a.
Kognitif
b.
Afektif
c. Cybernetic
d.
Preskriptif
e.
Behavioristik
2. Implementasi
teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa
tokoh, diantaranya adalah pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada
pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh tokoh berikut, kecuali......
a.
Robert Gagne
b.
Biehler
c.
Snowman
d.
Baine
e.
Von Galserfeld
3. Perhatikan
pernyataan berikut:
1.
Informasi verbal
2.
Kecakapan intelektual
3.
Practical Learning
4.
Strategi Kognitif
5. Konstruktivistik
Yang termasuk hasil
pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan
manusia (human capabilities) menurut teori Gagne, kecuali.......
a. 1,
2, dan 3
b.
1, 2, dan 4
c.
3 dan 5 saja
d.
2 dan 4 saja
e.
Semua benar
4. Dalam
Teori Belajar Sibernetik ada banyak ahli yang penganut teori tersebut. Salah
satunya adalah Landa, ia membedakan ada dua macam proses berpikir. Misalnya
penemuan cara memecahkan masalah, dalam pembelajaran biasa dikenal dengan
metode problem solving (pemecahan masalah sosial dari sebuah materi
pembelajaran), ini merupakan contoh dari proses berpikir.....
a.
Algoritmik
b.
Heuristik
c.
Feedback
d.
Umpan balik
e.
Efisiensi
5. Dalam
keseluruhan kegiatan pendidikan, siswa merupakan subjek utama. Segala bentuk
aktivitas hendaknya diarahkan untuk membantu perkembangan siswa. Keberhasilan
proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam perwujudan diri siswa sebagai
pribadi mandiri, pelajar efektif dan pekerja produktif.
Pernyataan tersebut salah satu
ciri-ciri proses pembelajaran yang efektif, yaitu.....
a.
Berpusat pada siswa
b.
Suasana demokratis
c.
Guru professional
d.
Bahan yang sesuai dan bermanfaat
e.
Sarana belajar yang menunjang
6. Istilah
’sibernetik’ pertama kali dipopulerkan
oleh .......... seorang ilmuwan dari Massachussets Institutof Technology (MIT),
untuk menggambarkan kecerdasan buatan (artificial intellidence).
a.
Nobert Wiener
b.
Robert Gagne
c.
Biehler
d.
Snowman
e.
Von Galserfeld
7. Dalam
teori belajar sibernetik berorientasi pada pemrosesan informasi, hal terpenting
yang tidak terlepas daripemrosesan informasi dalam pembelajaran adalah....
a.
Umpan balik
b.
Aplikasi
c.
Media belajar
d.
Kecakapan motorik
e.
Komunikasi
8. Suatu
pembelajaran akan dapat dikatakan berhasil apabila dilakukan dalam proses
pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif itu sendiri dapat dilihat
dari ciri-cirinya. Berikut ini yang tidak termasuk ciri pembelajaran efektif
adalah.....
a.
Berpusat pada siswa
b.
Variasi metode mengajar
c.
Suasana demokratis
d.
Lingkungan yang kondusif
e.
Kelas tenang tanpa adanya interaksi
antara guru dan siswa
9. 

Dari kasus diatas, jika dilihat dari sudut pandang
teori sibernetik hal ini termasuk di dalam...
a.
Faktor teori sibernetik
b.
Contoh teori sibernetik
c.
Ciri-ciri teori sibernetik
d.
Faktor yang menghambat pembelajaran
yang efektif
e.
Ciri-ciri proses pembelajaran yang
efektif
10. Hasil
pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih berbagai tindakan yang
akan dilakukan. Dengan kata lain, dapat diartikan sebagai keadaan di dalam diri
individu yang akan memberi arah kecenderungan bertindak dalam menghadapi sutu
objek atau rangsangan. Pernyataan ini merupakan salah satu contoh hasil
pembelajaran menurut teori ......... yang berupa ......
a.
Gagne ; sikap
b.
Gagne ; informasi verbal
c.
Landa ; proses berpikir heuristik
d.
Medley ; Cara mengajar
e. Schackelford
dan Henack ; Penyampaian bahan ajar yang sulit
SOAL
ESSAI
1.
Bagaimana informasi dapat diproses oleh
siswa melalui teori belajar sibernatik?
Jawab:
Dengan
adanya komunikasi antara pengajar dan siswa, karena pada dasarnya pemrosesan
informasi tidak terlepas dari yang namanya komunikasi. Melalui komunikasi guru
sebagai sumber menyampaikan informasi, yang dalam konteks belajar dan
pembelajaran adalah materi pelajaran, kepada penerima yaitu siswa dengan
menggunakan simbol-simbol baik lisan maupun tulisan dan bahasa non-verbal. Dan
sebaliknya, siswa akan menyampaikan beberapa pesan sebagai respon kepada guru
(Feedback) sehingga terjadinya komunikasi dua arah.
Adapun
hasil pembelajaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia yang
terdiri atas:
1. Informasi
verbal
2. Kecakapan
intelektual
3. Strategi
kognitif
4. Sikap
5. Dan
kecakapan motorik
2.
Dalam Kehidupan sehari-hari berpikir
secara algoritmik atau heuristik yang lebih unggul? Jelaskan!
Jawab:
Berpikir
secara Heuristik, karena cara berpikir divergen, yang mana dapat menuju ke
beberapa target tujuan sekaligus, memahami suatu konsep yang
mengandungmengandung arti ganda dan penafsiran biasanya menuntut seseorang
menggunakan cara berpikir heuristik. Dengan ini seseorang tidak berpikir akan
tertinggal dan dapat mengejar targer tujuan yang lebih besar dibandingkan
dengan berpikir secara algoritmik yang berpikir secara sistematis, tahap demi
tahap. Biasanya seseorang yang berpikir secara algoritmik hanya akan melakukan
suatu hal yang telah menjadi kebiasaan, berbeda dengan heuristik yang akan
selalu mencoba hal-hal yang baru.
3.
Mengapa didalam belajar diperlukannya
pembelajaran yang efektif?
Jawab:
Dalam
belajar diperlukannya efektivitas karna apabila proses belajar mengajar
tersebut rancuh akan mengakibatkan siswa yang merupakan subjek utama dalam
proses belajar mengajar akan sulit memahami pelajaran yang disampaikan oleh
guru karna ketidakefektivitasan dalam menyampaikan materi pelajaran. Apabila
proses belajar yang dilakukan efektif akan menimbulkan rasa semangat belajar
terhadap siswa dan dapat mengembangkan kemampuan siswa secara individual maupun
kelompok. Itulah dibutuhkannya keefektivitasan dalam proses belajar.


0 comments:
Post a Comment